Museum La Galigo Sebagai Daya Tarik Wisata Edukasi



Makassar memiliki kebudayaan yang menarik dan cerita sejarah beserta peninggalan-peninggalannya, untuk mengetahui sejarah Kota Daeng dan berbagai cerita menarik di dalamnya tidaklah hanya melalui buku maupun artikel-artikel serupa yang tersedia diberbagai media. Salah satu hal yang dapat dilakukan adalah dengan mengunjungi daya tarik wisata yang mengusung sejarah dan menampilkan koleksi dalam berbagai bidang seni dan budaya. Salah satunya adalah dengan mengunjungi museum. Tapi seberapa besarkah minat wisatawan untuk memilih museum sebagai media dalam  mengetahui lebih banyak destinasi tersebut ?
Gambar 1 Gedung Museum La Galigo
Foto oleh Rifka Arifah
Fort Rotterdam telah menjadi salah satu daya tarik wisata utama di Makassar, wisatawan yang berkunjung ke Makassar umumnya akan menyempatkan waktunya untuk datang  ke Fort Rotterdam. Hal ini dikarenakan tingkat promosi Fort Rotterdam selalu dicantumkan di berbagai media cetak maupun elektronik. Tentu saja ini menjadi peluang bagi Museum La Galigo yang bertempat di dalam kawasan Fort Rotterdam menjadi suatu atraksi tersendiri, dan secara telah berperan sebagai media pengenalan sejarah dan kebudayaan yang dimiliki masyakarat Sulawesi Selatan kepada para wisatawan.  


Setiap orang yang berkunjung ke museum memiliki tujuan untuk mempelajari atau mengingat kembali kejadian pada masa lampau. Umumnya museum selalu di identikan dengan tempat yang mengoleksi atau menyimpan berbagai benda-benda tua yang telah usang, kotor dan tidak terawat. Sehingga wisatawan lebih berminat untuk menghabiskan waktu luang dan berwisata ke tempat lain seperti pusat perbelanjaan, taman hiburan, bioskop atau  tempat nongkrong yang diganrungi oleh kawula muda seperti café maupun restoran. Sedangkan posisi Fort Rotterdam di hati wisatawan lokal khususnya wisatawan dengan rentan usia remaja seperti pelajar menjadikannya pilihan kesekian.

Wisatawan lebih memilih datang ke Fort Rotterdam dengan tujuan untuk berkumpul, berfoto atau menghadiri event tertentu yang memang Fort Rotterdam selalu menjadi lokasi beberapa event rutin atau event lainnya. Namun lebih parah lagi nasib Museum La galigo yang berada di dalam kawasan Fort Rotterdam. Ada beberapa hal yang menjadikan museum tersebut terkesan kuno untuk menghabiskan waktu luang atau berwisata baik untuk wisatawan lokal maupun wisatawan mancanegara. Melihat pula dari kondisi existing sore itu, para wisatawan mancanegara lebih memilih berkeliling area Fort Rotterdam dengan guide mereka yang akan menjelaskan segala hal yang berkaitan dengan sejarah daya tarik wisata tersebut.
Selain itu, tempat hiburan sejenis taman bermain dan mall mulai berkembang pesat di kota Makassar. Hal ini membuat museum yang memiliki paradigma “kuno”  menjadi terkikis dan keluar dari kompetisi diakibatkan oleh modernisasi dan keinginan konsumen dalam berkunjung ke tempat wisata yang lebih kekinian (hits).

Bagaimana cara mengelola musem untuk tujuan pendidikan ?
Untuk menjadikan Museum La Galigo sebagai museum dengan tujuan edukasi tentunya harus dimulai dengan tingkat koleksi yang lebih kompleks. Selain itu, melihat dari koleksi yang disediakan Museum La Galigo lebih mengarah kepada tujuan pengenalan budaya Sulawesi Selatan secara umum, memiliki cakupan yang luas namun spesifikasi yang tidak terlalu detail dan untuk cakupan usia yang ditujukan melihat dari koleksinya lebih kepada usia formal karena lebih banyaknya tulisan yang dimunculkan dari pada isi koleksi tersebut. Jika saja Museum La Galigo ingin mencakup seluruh usia terutama pengenalan budaya Makassar berikut peninggalannya kepada usia muda atau anak-anak perlu ditingkatkan lagi dengan koleksi yang dapat di sentuh (touchable) atau dirasakan langsung. Penambahan ruang khusus untuk tujuan pengenalan edukasi yang bersifat santai bisa dengan membuat photoboth dengan warna menarik atau patung-patung tiruan yang bisa disentuh langsung oleh wisatawan atau sekedar berfoto bersama patung-patung tiruan (Sculpture illustration) tersebut.
Bagaimana cara mengelola museum sebagai atraksi wisata? 
Gambar 2 Koleksi Museum La Galigo
Foto oleh Rifka Arifah

Melihat lagi dari tujuan seseorang berwisata adalah untuk relaxing atau merasakan kenyamanan dengan bersenang-senang. Wisatawan cenderung lebih memilih lokasi daya tarik wisata alam yang lebih memunculkan kesan bersantai. Ada beberapa hal yang menjadi acuan jika ingin membuat Museum La Galigo lebih memunculkan image sebagai sebuah atraksi wisata, antara lain ;
  1. Untuk pengelolaan museum menjadi sebuah atraksi haruslah lebih menunjukkan kesan unik namun tetap seiring dengan fungsi sebuah museum, keberadaan museum harus mampu menghapus kesan kuno atau hanya menjadi tempat koleksi benda usang dan kotor, museum harus dipadukan dengan nuansa entertainment. Ini terobosan agar museum tidak identik dengan masa lalu, tetapi juga mampu untuk menjadi inspirasi bagi sumber kehidupan masa kini.
  2. Selain itu dalam sebuah pengelolaan atraksi perlu lebih mengarah ke  perawatan gedung itu sendiri seperti membuat bangunan tersebut lebih menarik dengan memunculkan originalitas Sulawesi Selatan khususnya Makassar. Contohnya dengan mendekorasi tampilan awal saat memasuki bangunan, mulai dari meja loket dan dinding atau hiasan pada dinding dengan kain tenun membuat nuansa makassar lebih terasa, lebih memperhatikan lagi dinding yang mulai terkelupas serta lantai kayu yang agak retak. Selain itu, penilaian kepada pelayanan pintu depan (front line services) juga perlu penekenan karena hal tersebut menjadi kesan pertama dari wisatawan sebelum mereka memasuki gedung museum ke ruang pamer (display)
  3. Para pengelola museum harusnya membuat lebih banyak lagi program-program yang menarik untuk meningkatkan kunjungan wisatawan dengan tema yang mengusung sejarah atau seni dan budaya seperti pada koleksi Museum La Galigo.

Apa saja strategi yang dapat dilakukan untuk menarik wisatawan datang ke museum ?
Museum masih memiliki tempat dihati wisatawan dengan minat (interest) yang tinggi  pada hal sejarah, budaya, seni maupun arkeologi. Namun jika ingin menarik wisatawan dengan seluruh jangakuan usia perlu dikembangkan lagi dengan beberapa strategi yang dapat mencakup setiap wisatawan dan menarik minat mereka untuk mengunjungi Museum La Galigo, antara lain ;
  1. Kurangnya promosi dan inovasi pada museum juga menjadi faktor penting dalam meningkatkan jumlah kunjungan wisatawan. Untuk itu, dibutuhkan sebuah pengembangan promosi museum lebih lanjut agar museum mampu menunjukkan nilai-nilai koleksi yang tersimpan kepada publik, tak hanya serupa tulisan dan koleksi itu sendiri, tapi unsur modernitas juga dicantumkan menyesuaikan dengan jaman yang semakin modern. Dibutuhkan kerjasama dengan pihak – pihak tertentu dalam pemasaran museum ,diferensiasi namun dengan tetap memegang kekhasan sebuah “museum” serta inovasi dalam  layout dan display.
  2. Penambahan staff atau merekrut guide khusus yang juga akan bekerja sebagai meja informasi (information desk) pun menjadi nilai tambah bagi Museum La Galigo jika dapat dikembangkan sedemikian rupa. Pengelola museum seharusnya tidak hanya mengandalkan dari diorama saja.
  3. Penggunaan teknologi terkini seperti membuat ‘Museum La Galigo collection apps’ yang menjelaskan tentang semua koleksi dengan memasang barcode di depan display yang hanya dengan memasangkan Kamera Handphone dan mendownload aplikasi tersebut akan otomatis mengarahkan ke penjelasan koleksi dengan barcode yang dituju dalam bentuk audio maupun visual. Karena ada beberapa jenis orang yang lebih suka mendengarkan penjelasan dibanding membaca begitu banyaknya tulisan Koran.
  4. Menyediakan tempat kostum (cosplay) agar wisatawan dapat merasakan mengenakan pakaian adat Sulawesi Selatan atau merasakan menunggani transportasi jaman dulu yang sudah sulit ditemukan saat ini.
Menjadikan Museum La Galigo sebagai daya tarik wisata utama dan diminati oleh wisatawan diperlukan untuk perubahan paradigma masyarakat terlebih dahulu bahwa museum bukanlah sesuatu yang kuno meskipun memang menunjukkan koleksi yang berkarakter tua dan antik. Menekankan lagi pada fungsi Museum La Galigo sebagai budaya Sulawesi Selatan khususnya Makasar kepada wisatawan atau pengunjung yang mendatangi museum tersebut. Sekaligus menjadi titik berat untuk menarik wisatawan kembali ke museum baik pertama kalinya maupun kembali untuk kedua kalinya. Tentunya akan membutuhkan usaha yang sangat besar dan tidak seimbang dengan biaya anggaran pengelolaan Museum La Galigo. Berbagai upaya seperti memperkuat lagi jaringan kemitraan dengan lembaga, dinas atau pemangku kepentingan terkait yang akan memberikan dampak dan memajukan posisi museum sebagai daya tarik wisata yang dapat disaingkan dengan daya tarik wisata lainnya di Kota Makassar.

Komentar

Postingan Populer